Iklan
Kembali

Fasisme tidak Datang dengan Seragam, Tetapi Melalui Kebencian terhadap kebenaran

Bongkar Tanah Editor: 2 Bulan lalu Opini 238 views
Fasisme tidak Datang dengan Seragam, Tetapi Melalui Kebencian terhadap kebenaran

Kultus Individu adalah Alarm Demokrasi, ketika pemimpin diposisikan tidak pernah salah, demokrasi sedang berada dalam bahaya. KeKuasaan yang sehat membutuhkan kritik. Pemimpin yang sehat membutuhkan pengawasan. Negara yang sehat membutuhkan oposisi.

Sebaliknya, ketika setiap kritik dianggap penghinaan, setiap pengawasan dianggap permusuhan, dan setiap perbedaan pendapat dianggap ancaman terhadap negara, ruang demokrasi mulai menyempit. Demokrasi tidak mati karena terlalu banyak kritik. Demokrasi justru mati ketika kritik tidak lagi diperbolehkan.

Indonesia harus belajar Dari Sejarah

Bangsa yang melupakan sejarah beresiko mengulang kesalahan yang sama.

Indonesia memiliki pondasi yang kuat melalui konstitusi, Pancasila dan Prinsip negara hukum. Namun fondasi tersebut hanya akan bermakna apabila seluruh Institusi negara benar-benar menjalankan prinsip akuntabilitas, keterbukaan dan supremasi hukum. Masyarakat sipil, media, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, serta organisasi rakyat memiliki tanggung jawab untuk menjaga ruang demokrasi tetap hidup.

Membela kebenaran bukan membela kelompok, dalam masyarakat demokratis, keberanian mengatakan yang benar bukanlah tindakan melawan negara. Sebaliknya, itulah bentuk kecintaan kepada Negara. Mengkritik penyalahgunaan kekuasaan bukan berarti membenci pemerintah, mengungkap korupsi bukan berarti anti-pembangunan. Menuntut penegakan hukum bukan berarti mengganggu stabilitas. Kebenaran tidak boleh tunduk kepada kekuasaan, Kekuasaan lah yang harus tunduk kepada kebenaran.

Penutup

Artikel Terkait