Fasisme tidak Datang dengan Seragam, Tetapi Melalui Kebencian terhadap kebenaran


Demokrasi tidak selalu runtuh oleh kudeta militer. Dalam banyak peristiwa sejarah, demokrasi dihancurkan dari dalam, melalui proses yang perlahan, sistematis, dan sering kali memperoleh memperoleh dukungan dihancurkan dari dalam, melalui proses yang perlahan, sistematis, dan sering kali memperoleh dukungan sebagian masyarakat. Ketika kebohongan lebih dipercaya daripada fakta, ketika propaganda menggantikan argumentasi, dan ketika pemimpin dipuja melebihi hukum, saat itulah benih -benih fasisme mulai tumbuh.
Fasisme bukan sekedar rezim masa lalu yang identik dengan Adolf hitler, Benito Mussolini, atau simbol simbol perang dunia. Fasisme adalah pola kekuasaan yang dapat muncul di negara mana pun ketika demokrasi kehilangan roh utamanya : penghormatan terhadap kebenaran, kebebasan berpikir dan keberanian mengoreksi kekuasaan.
Demokrasi Bisa Mati Secara perlahan
Sejarah menunjukkan bahwa kehancuran demokrasi jarang terjadi dalam semalam. Ia diawali dengan normalisasi berbagai penyimpangan. Masyarakat mulai dibiasakan menerima kebohongan sebagai sesuatu yang lumrah. Kritik dianggap ancaman. Lawan politik diposisikan sebagai musuh negara. Aparat dijadikan alat untuk membungkam suara yang berbeda, sementara propaganda terus diproduksi agar publik percaya bahwa semua tindakan penguasa dilakukan demi kepentingan bangsa.





