LAPORAN INVESTIGASI: Nyawa, Keringat, dan Gurita di Balik Sisa Emas Hitam Sungai Mahakam

Peralatan Keselamatan Kerja (APD) sebenarnya bukan sama sekali tidak ada. Kelompok ini telah menyiapkan pelampung. Namun, minimnya literasi keselamatan membuat pekerja sering kali melepas pelampung tersebut dengan alasan tidak leluasa bergerak. Akibatnya, nyawa menjadi bayarannya.

Hanya dalam catatan waktu singkat belakangan ini, M menyebut ada 4 orang meninggal dunia dan 3 orang berhasil diselamatkan setelah kapal mereka pecah dihantam ombak besar. Kematian di Sungai Mahakam seolah menjadi hal lumrah yang tak pernah tercatat dalam dokumen resmi negara. Tim SAR kerap turun membantu pencarian, namun jika korban tak ditemukan, keluarga hanya bisa pasrah tanpa bisa menuntut kompensasi atau santunan dari pihak mana pun.
Ekonomi Bayangan: Dari Sistem Bagi Hasil Hingga \"Uang Koordinasi\"
Di balik sisa material ini, mengalir perputaran uang yang tak sedikit. Hasil penjualan batubara sisa ini dibeli oleh para pemodal, atau yang biasa mereka sebut \"Toke\".
Skema pembagian keuntungannya berlapis: 50% dari hasil penjualan diberikan kepada pemilik kapal pengangkut (klotok) beserta kaptennya, dan 50% sisanya dibagi rata kepada tim pekerja yang membersihkan tongkang.
Berdasarkan investigasi, praktik pengumpulan batubara sisa ini sudah berlangsung sejak tahun 2004. Dulu, kegiatan ini sempat bernaung di bawah sebuah koperasi resmi. Entah mengapa, koperasi tersebut kini lenyap tanpa jejak, meninggalkan para pekerja dan pemodal dalam ruang abu-abu legalitas.





