Iklan
Kembali

ANJAMA BATU: Menjual Napas demi Sisa Bara, Tanpa Jaring Pengaman

Bongkar Tanah Editor: 2 Bulan lalu Opini, Pojok Warta 265 views
ANJAMA BATU: Menjual Napas demi Sisa Bara, Tanpa Jaring Pengaman

Bagi sebagian warga samarinda, menjadi Pulung Baro adalah pilihan terakhir di tengah minimnya lapangan kerja formal. Namun bagi sebagian lainnya ini adalah pilihan strategis karena dianggap memiliki jam kerja yang fleksibel dan tidak diatur oleh kontrak formal yang mengikat.

Praktik Pungli dan Kontrol Wilayah

Ekosistem ekonomi di sepanjang sungai mahakam tidak pernah terlepas dari praktik-praktik diluar sistem hukum formal. Salah satu yang paling gamblang terlihat disini adalah praktik pungutan liar atau pungli. Tim investigasi mendapatkan bukti bahwa aktivitas tongkang yang melintas di Samarinda tidak berjalan tanpa Biaya tambahan dalam sebuah laporan Kompas.com yang terbit pada oktober 2025 disebutkan secara gamblang adanya praktik pungli yang melibatkan sekelompok orang yang membagi wilayah kerja mulai dari jembatan Mahakam hingga perbatasan kutai kartanegara. Tarif yang dipatok berdasarkan laporan yang sama, adalah Rp 200.000 per jam, ditambah tiga jerigen solar sebagai upetinya, ketika terjadi kecelakaan seperti tongkang menabrak rumah warga, perusahaan justru bersembunyi dibalik fakta bahwa mereka sudah membayar pungli.

Sistem kontrol semacam ini secara tidak langsung menciptakan ketertiban semu yang justru dimanfaatkan oleh para pelaku pungli. Sementara itu, nelayan dan masyarakat bantaran sungai lain nya terus menerus menjadi korban. Rumah rumah di bantaran Mahakam di Jalan Mangunkusumo, berkali kali dilaporkan rusak tersenggol atau tertabrak tongkang yang hilang kendali. Dalam setiap kejadian, warga cenderung tidak mendapat ganti rugi yang memadai karena perusahaan berlindung pada lemahnya pengawasan dan maraknya pungli.

Artikel Terkait