Purbaya Kantongi Nama 10 Raksasa Sawit Curang, Petani Kecil yang Paling Dirugikan


Jakarta, 22 Mei 2026 — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto temuan mencengangkan: 10 perusahaan sawit terbesar diduga melakukan manipulasi harga ekspor Crude Palm Oil (CPO) melalui praktik under-invoicing.
Dalam sampling acak, hampir semua perusahaan tersebut melaporkan harga ekspor jauh di bawah nilai sebenarnya. Contohnya, satu pengapalan ke Amerika Serikat dicatat hanya US$2,6 juta, padahal nilai riil mencapai US$4,2 juta — selisih hingga 57%. Praktik ini berpotensi merugikan negara hingga miliaran dolar dari pajak ekspor, bea keluar, dan devisa.
Dampak Langsung ke Petani Kecil
Manipulasi harga oleh perusahaan besar ini bukan hanya soal kerugian negara semata. Petani sawit kecil, yang mengelola sekitar 40% lahan sawit nasional, justru menjadi korban paling terdampak:
Berkurangnya Dana untuk Petani
Pungutan ekspor CPO yang seharusnya masuk ke Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk program *peremajaan sawit rakyat*, subsidi pupuk, bibit unggul, dan infrastruktur kebun menjadi bocor. Akibatnya, program bantuan yang sangat dibutuhkan petani kecil terhambat.
Harga TBS Ditekan
Perusahaan besar yang curang cenderung menekan harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani agar margin mereka tetap tebal. Harga TBS yang fluktuatif dan sering turun drastis membuat pendapatan petani kecil semakin tidak menentu.
Ketimpangan yang Semakin Lebar





